Jumat, 30 Januari 2009

Mobil Listrik, Kendaraan Masa Depan yang Bebas Polusi

Percobaan dan perkembangan mobil listrik di dunia sudah begitu maju. Penelitiannya sudah sampai memanfaatkan bahan bakar metanol. Bila melihat daftar paten, hasil penemuan sistem penggerak mobil listrik di dunia mencapai sekitar 230 jenis.
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia sebetulnya sudah pernah membuat mobil listrik. Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), misalnya, sejak 1985 merintis pembuatan mobil tenaga surya. Penelitian para mahasiswa itu akhirnya bisa mewujudkan “Widya Wahana I” yang peluncurannya dilakukan di Monas, Jakarta, November 1989. Inilah mobil bertenaga energi matahari pertama karya bangsa ini.
Dengan dukungan fasilitas laboratorium dan peralatan dari IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia), PT PAL, dan PT LEN Industri, mereka mengembangkan prototipe mobil itu lebih lanjut sampai generasi ketiga pada tahun 2000. Namun belakangan, pengembangan ke arah industri massal terhambat karena kurang diminati para industriawan otomotif nasional.
Tapi hal itu tak menyurutkan LIPI untuk mengembangkan mobil listrik “Marlip,” kependekan dari Marmut Listrik LIPI. Pengembangannya dilakukan oleh Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik (Telimek) LIPI.
Tokoh di balik Marlip adalah Totok MS Soegandi dan Masrah. “Tujuan kami membuat mobil listrik ini adalah untuk menekan polusi udara oleh kendaraan berbahan bakar minyak di kota-kota besar di Indonesia,” ujarnya beberapa waktu lalu saat peluncurannya dalam “Ritech 2003” di Jakarta.

Ramah Lingkungan
Kini seluruh negara maju di dunia mengembangkan mobil listrik yang ramah lingkungan berbahan bakar metanol. Tujuannya sama-sama menekan pencemaran udara akibat pemakaian BBM, bahkan terkesan sedang terjadi perlombaan untuk mengembangkan mobil ramah lingkungan.
Penelitian metanol sebagai bahan bakar mobil listrik sudah sangat maju. Jenis mobil itu dikenal dengan sebutan direct methanol fuel cell vehicles (DMFCV) atau julukan populernya fuel cell vehicles (FCV).
Beberapa perusahaan besar yang sudah dan sedang mengembangkan FCV di antaranya, Daimler Chrysler dengan Jeep Commander 2 dan NECAR-5, Ford Motor Company dengan THINK FC5 dan P2000 HFC . Sementara itu, Mazda memiliki Demio, Honda membanggakan FCX-V2, Toyota dengan RAV 4 FCEV.
FCV adalah mobil masa depan yang sangat menjanjikan karena memiliki banyak keunggulan ketimbang mobil konvensional ICE (internal combustion engine- mesin pembakaran internal). Mengacu pada penelitian California Air Resources Board (CARB), tunggangan ini amat ramah lingkungan sebab pelit sekali melepas gas karbon oksida, NMOG (non methane organic gases) dan NOx ke lingkungan.
Penelitian tersebut juga menyebutkan FCV jauh lebih baik ketimbang jenis mobil ICE yang sebelumnya khusus didesain beremisi sangat rendah. Mobil-mobil yang berbasis ICE di antaranya seperti TLEV (Total Low Emission Vehicle), LEV (Low Emission Vehicle), SULEV (Super Ultra Low Emission Vehicle) dan ULEV (Ultra Low Emission Vehicle).
Pada era FCV tiada lagi tipe mobil dengan volume mesin seperti 1.500 cc, 2000 cc, 2.500 cc dan sebagainya. Pengelompokannya pada besarnya daya listrik yang dibangkitkan oleh mesin DMFC seperti 2 HP (horse power), 4 HP, 5 HP, dan sebagainya. Begitu pula kuping kita tak lagi mendengar mesin meraung dan asap hitam. Selamat tinggal istilah karburator, EFI (electronic fuel injection), pelumas, piston, ring dan seterusnya.

Peluang Pasar
Produsen mobil di sana memiliki naluri bisnis dalam melihat peluang pasar yang menganga di masa depan. Di Amerika Serikat misalnya, mereka tengah menunggu pemberlakuan kebijakan nol emisi di negeri itu. Salah satu kota di sana, California, mulai tahun ini menerapkan bebas polusi dari kendaraan bermotor.
Cara yang dilakukan “pemda” California tersebut, cukup unik. Setiap penjualan 10 unit mobil harus terdapat 1 unit mobil listrik. Artinya mulai tahun 2003 setiap tahun akan bertambah 300.000-400.000 mobil listrik di California atau 10 persen dari total kebutuhan mobil.
Bagimana dengan Marlip kita? City car ini digerakkan motor listrik dengan lama operasi sampai delapan jam. Sistem penggeraknya (motor listrik) telah dipaten atas nama Masrah, sang penemunya.
Kendaraan ini bisa melaju pada kecepatan 40 km per jam dan mampu memuat 6-8 orang. Kandungan lokal bahkan mencapai 70 persen. Jika ingin melihat Marlip, saat ini prototipe sedang dioperasikan LIPI di Kebun Raya Bogor sebanyak 3 unit.

1 komentar:

 

Free CursorsMyspace LayoutsMyspace Comments